Sejarah Kota Yogyakarta: Kerajaan Mataram Kota Istimewa
Yogyakarta adalah kota yang kaya akan sejarah, budaya, dan nilai-nilai tradisi yang masih lestari hingga hari ini. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan dan pariwisata, tetapi juga memiliki latar belakang historis yang erat kaitannya dengan Kerajaan Mataram Islam. Didirikan secara resmi pada tahun 1756, Yogyakarta merupakan kelanjutan dari sejarah panjang kerajaan-kerajaan Jawa yang telah eksis sejak abad ke-16.
Sejarah Kota Yogyakarta: Kerajaan Mataram Kota Istimewa
Dalam artikel ini, kita akan menyusuri perjalanan berdirinya Kota Yogyakarta, peran penting Sultan Hamengku Buwono I, serta bagaimana kota ini berkembang hingga memperoleh status sebagai Daerah Istimewa di Indonesia.
Awal Mula Berdirinya Yogyakarta
Sejarah Kota Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari dinamika Kerajaan Mataram Islam. Setelah terjadinya perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Kerajaan Mataram yang sebelumnya berpusat di Kartasura mengalami pemisahan wilayah menjadi dua bagian. Perjanjian ini disepakati oleh pihak Belanda (VOC) bersama Pangeran Mangkubumi dan Susuhunan Pakubuwono III.
Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I, memperoleh wilayah bagian barat Kerajaan Mataram. Sebagai langkah awal membangun kekuasaannya sendiri, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Ambarketawang ke wilayah baru yang kelak dikenal sebagai Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada tahun 1756, Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Yogyakarta, yang menjadi pusat kekuasaan, budaya, dan pemerintahan.
Pembangunan keraton ini sekaligus menandai lahirnya Kota Yogyakarta secara administratif dan kultural.
Perkembangan Awal dan Struktur Kota
Setelah berdirinya keraton, wilayah sekitarnya mulai berkembang menjadi pusat permukiman dan aktivitas masyarakat. Tata kota Yogyakarta didesain dengan filosofi Jawa yang sarat makna, termasuk poros imajiner antara Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan. Tata ruang kota ini mencerminkan keseimbangan kosmis dan nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa.
Di sekitar keraton, dibangun pula kawasan penting seperti Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan, yang menjadi ruang publik sekaligus bagian dari sistem pertahanan keraton. Selain itu, kampung-kampung tradisional tumbuh mengelilingi keraton, dan banyak di antaranya masih eksis hingga saat ini dengan budaya khas masing-masing.
Masa Kolonial dan Perjuangan Kemerdekaan
Selama masa penjajahan Belanda, Yogyakarta tetap memiliki peran penting, terutama sebagai pusat budaya Jawa. Meskipun di bawah pengaruh kolonial, Keraton Yogyakarta tetap diberi otonomi dalam urusan internal, dan para sultan diberi status istimewa dalam sistem pemerintahan kolonial.
Pada masa penjajahan Jepang dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Yogyakarta kembali menunjukkan peran strategisnya. Bahkan, pada tahun 1946–1949, saat Jakarta tidak aman karena agresi militer Belanda, Yogyakarta menjadi ibu kota Republik Indonesia sementara. Peristiwa ini menunjukkan komitmen kuat kota ini terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa.
Sultan Hamengku Buwono IX juga dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Beliau berperan besar dalam mendukung pemerintahan Republik Indonesia dan menyerahkan kekuasaan keratonnya secara sukarela kepada negara. Tindakan ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai bagian integral dari NKRI.
Yogyakarta Sebagai Daerah Istimewa
Karena peran besar Keraton Yogyakarta dan kontribusi nyata Sultan Hamengku Buwono IX dalam memperjuangkan kemerdekaan, Yogyakarta kemudian diberi status khusus oleh pemerintah pusat. Melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012, wilayah ini diakui sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Keistimewaan ini mencakup hak istimewa dalam pemerintahan, di mana Gubernur DIY secara langsung dijabat oleh Sultan yang bertahta, sementara Wakil Gubernur dijabat oleh Adipati Paku Alam. Sistem ini menjadikan DIY sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan sistem pemerintahan monarki dalam bingkai republik.
Perkembangan Kota di Era Modern
Kini, Yogyakarta telah tumbuh menjadi kota modern tanpa kehilangan jati diri budayanya. Sebagai kota pelajar, Yogyakarta menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, dengan perguruan tinggi ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), UNY, dan banyak lainnya.
Di sisi lain, sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Tempat-tempat seperti Malioboro, Keraton, Taman Sari, hingga kawasan wisata alam di Gunungkidul menjadikan kota ini sebagai destinasi utama wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kota ini juga aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya, termasuk seni rupa, musik tradisional, teater, dan seni pertunjukan modern. Festival budaya dan kegiatan kreatif lainnya semakin menguatkan posisi Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan nasional.
Penutup
Sejarah Kota Yogyakarta adalah cerminan perjalanan panjang sebuah peradaban yang kokoh berdiri di tengah perubahan zaman. Berawal dari pendirian keraton oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1756, hingga menjadi ibu kota negara sementara dan kini menjelma sebagai kota budaya dan pendidikan, Yogyakarta membuktikan dirinya sebagai salah satu kota paling bersejarah dan berpengaruh di Indonesia.
Dengan statusnya sebagai Daerah Istimewa, Yogyakarta terus menjaga warisan leluhur sambil bergerak maju dalam pembangunan. Kota ini bukan hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga menjadi simbol harmoni antara tradisi dan kemajuan.